Kali aja ada disini…

Silahkan pilih, yang penting anda senang….

Mafia hukum hati-hati, pekan depan satgas pemberantas mafia hukum datang…

Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, awal pekan depan direncanakaan segera diumumkan ke masyarakat dan dapat mulai menjalankan tugasnya untuk menemukan dan mengikis kasus-kasus hukum y ang diwarnai dengan berbagai praktik mafia.

Konsep Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, hingga Kamis (26/11), masih dalam proses finalisasi oleh Presiden Yudhoyono bersama Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan Staf Khus us Presiden Bidang Penegakan Hukum, Hak Asasi Manusia dan Pemberantasan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme.

Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Penegakan Hukum, HAM dan Pemberantasan KKN Denny Indrayana kepada Kompas, Kamis (26/11) malam di Jakarta. Sebelumnya, Denny bersama sejumlah Staf Khusus Presiden menemui Presiden Yudhoyono di kediaman pribadi Presiden di Puri Indah Cikeas, Gunung Putyri, Bogor, Jawa Barat, Kamis sore.

Denny melaporkan perkembangan konsep Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Presiden Yudhoyono beberapa waktu lalu, menyatakan pemerintah tengah menyiapkan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Program pemberantasan mafia hukum merupakan salah satu program yang tertuang dalam program 100 hari untuk disiapkan menjadi program pelaksanaan.

Mafia hukum mencuat setelah terungkapnya rekaman pembicaraan antara adik kandung Direktur PT Masaro Radiocom Anggoro Widjojo dengan sejumlah oknum Polri, Kejaksaan Agung, pengacara, pengusaha dan bahkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) terkait dengan kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ya, tadi (sore di Cikeas) diskusi awal sekaligus melaporkan perkembangan. Awal minggu depan, akan diumumkan dan akan mulai bekerja. Ini sesuai dengan komitmen Presiden Yudhoyono dalam program 100 harinya untuk memberantas mafia hukum dan menegakan hukum. Dari sini masyarakat bisa menilai dan melihat komitmen Presiden,” tandas Denny.

Menurut Denny, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum akan berada di bawah kendali UKP4. Fokus Satgas ini memberantas mafia hukum. “Tidak semua kasus hukum, akan tetapi kasus yang diwarnai praktik mafia. Upaya pemberantasan ini akan dilakukan bersama-sama dengan aparat hukum lainnya,” tambah Denny.

Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha menambahkan, untuk menyusun Satgas Pemberantaan Mafia Hukum, Presiden Yudhoyono berencana akan mengundang sejumlah pakar dan praktisi hukum untuk mendapatkan masukan susunan satgas tersebut.

Filed under: Hukum, Politik , , , , , , , , ,

Ini dia kesaksian Williardi yang menghebohkan…

Kesaksian Williardi Wizard sungguh berani dalam sidang kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Ia menyadari, sebagai saksi mahkota, apa pun pernyataannya sangat memengaruhi nasib mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang duduk sebagai terdakwa dalam sidang tersebut.

Hari Selasa (10/11) ini, ia memutuskan untuk mencabut semua pernyataannya di BAP karena itu semua dibuat atas dasar rekayasa penyidik polisi. “Saya nyatakan semua BAP tidak berlaku. Yang (akan) kami pakai adalah BAP tanggal 29 April 2009 dan 30 April 2009 dan yang (kami) katakan di sini,” kata Williardi mengawali kesaksiannya.

Ia memutuskan mencabut keterangannya di BAP karena apa yang ia katakan telah dibuat oleh penyidik, dan ia tinggal tanda tangan. Alasan lain, pihak penyidik tidak memenuhi janjinya untuk tidak menahannya jika menurut pada penyidik.

Rekayasa itu bermula saat ia dijemput pada satu hari dari rumahnya ke kantor polisi pukul 00.30. Pada dini hari itu Williardi didatangi dan diperiksa Direktur Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, Wakil Direktur Reserse, dan tiga orang kepala satuan.

Menurut Williardi, para petinggi polri memintanya membuat BAP yang harus menjerat Antasari sebagai pelaku utama pembunuhan Nasrudin. “Waktu itu dikondisikan sasaran kita cuman Antasari. (Lalu BAP saya) disamakan dengan BAP Sigid (Haryo Wibisono), dibacakan kepada saya,” ujar Williardi tanpa wajah takut.

Dalam kesaksian berikutnya, Williardi pun menyebut nama Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Adiatmoko. Menurut dia, Adiatmoko juga memintanya membuat BAP demi kepentingan menjebloskan Antasari.

BAP yang dibuat Williardi pada tanggal 29-30 April ditolak penyidik karena Antasari tidak tersangkut. “Udah bikin apa saja yang terbaik untuk menjerat Pak Antasari. Dijamin besok pulang. Kami dijamin oleh pimpinan Polri tidak akan ditahan. Paling sanksi indisipliner,” kata Williardi mengulang perkataan Adiatmoko.

Karena jaminan itu, lanjut Williardi, ia bersedia menandatangani BAP yang sudah dibuat penyidik. Namun, yang terjadi keesokan harinya dalam berita televisi, Williardi diplot polisi sebagai salah satu pelaku pembunuhan Nasrudin.

Ia pun protes kepada Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Muhammad Iriawan yang turut memeriksanya. “Janji mana? Tolong diklarifikasi. Kami tidak sejahat itu,” ujar Williardi.

Protes Willardi ini menuai reaksi dari teman sejawatnya. Kembali ia dijemput Brigjen (Pol) Irawan Dahlan dan langsung dibawa ke kantor Adiatmoko.

Sambil minum kopi, ia ditanya apakah kenal dengan Edo, Jerry Hermawan Lo, Antasari Azhar, dan Sigid Haryo Wibisono. Ia juga ditanya apakah pernah menyerahkan uang Rp 500 juta kepada Edo dari Sigid.

Williardi mengiyakan semua pertanyaan, tanpa tahu ia sedang disidik. Mendengar pengakuan Williardi, Adiatmoko meminta bawahannya untuk langsung menahan Williardi.

“Lho kok cuma nyerahin uang ditahan?” ujar Williardi kepada Adiatmoko. Sejak saat itu sampai sekarang Williardi mendekam dalam tahanan.

Dalam sidang yang dipimpin oleh Herri Swantoro di PN Jakarta Selatan siang tadi, Williardi juga mengaku dicap sebagai pengkhianat oleh teman-teman sejawatnya ketika ia protes kenapa ia akhirnya jadi terlibat dalam kasus pembunuhan dan ditahan.

Protes kerasnya itu malah ditanggapi dingin oleh penyidik. “Itu perintah pimpinan,” begitu jawaban yang dia dapat saat ia mengungkapkan kenapa ia ditahan.

Penasaran siapa yang dimaksud dengan pimpinan, Tim Kuasa Hukum Antasari yang diketuai Juniver Girsang bertanya kepada Williardi siapa yang dimaksud pimpinan. “Kalau bicara pimpinan, pimpinan kami ya Kapolri,” jawab Williardi lantang.

Lebih jauh, rekayasa itu juga terjadi saat rekonstruksi. Dalam suatu pertemuan di kamar kerja Sigid, seolah-olah penyidik membuat adegan Antasari memberikan amplop coklat berisi foto Nasrudin kepada Williardi. Hal ini langsung dibantah oleh Williardi.

“Itu tidak benar. Kami menerima amplop itu langsung dari saudara Sigid. Tanpa ada Pak Antasari,” tutur Williardi. Dari awal memberikan kesaksian, Williardi tidak gentar membeberkan pernyataan yang dianggapnya benar.

Tak ada wajah takut darinya sekalipun beberapa pejabat berbintang ia sebutkan. Terdengar pula ia beberapa kali bersumpah untuk meyakinkan majelis hakim.

Selain nama-nama di atas, ia juga menyebut petinggi Polri, seperti Niko Afinta, Tornagogo Sihombing, dan Daniel. Jaksa penuntut umum yang diketuai Cirus Sinaga meminta nama-nama yang disebut Williardi supaya dihadirkan dalam persidangan.

*Kompas

Filed under: Hukum, Politik , , , , , , ,

Ini dia ciri-ciri Yulianto menurut Ary….

Ary Muladi, perantara yang ditugaskan Anggodo Widjojo untuk menyampaikan uang suap kepada pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sangat yakin bahwa sosok Yulianto bukanlah tokoh fiktif.

Yulianto yang dikenalnya di Surabaya sepuluh tahun silam adalah orang yang dihubunginya untuk memberikan uang suap tersebut langsung ke Bibit Samad Rianto, Chandra M Hamzah, M Jasin, dan Ade Rahardja. Bahkan, Ary berani mengungkapkan ciri-ciri fisik Yulianto yang kini paling dicari-cari karena keberadaannya tidak diketahui.

“Sosok Yulianto benar-benar ada. Tidak seperti dikatakan sebelumnya, tidak ada,” ujar Ary dalam keterangan pers seusai bertemu dengan Tim Delapan di Kantor Wantimpres, Sabtu (7/11) siang.

Menurut Ary, tinggi badan Yulianto lebih tinggi sekitar 5 cm. Menurut pengamatan Kompas.com, tinggi badan Ary berkisar 175-180 cm. Ary juga mendeskripsikan bentuk alis Yulianto yang cenderung lurus, naik di bagian ujungnya.

“Jadi dia terkesan naik karena kayak orang Tionghoa. Mukanya bukan muka Chinese, tapi pribumi Indonesia. Kulitnya seperti saya, tapi lebih bersih dan badannya lebih atletis daripada saya,” lanjut pria yang terkesan kalem ini.

Ary mengaku mengenal sosok Yulianto dari seorang rekannya yang bernama Haji Labid. Yulianto dikenalnya sebagai seorang wiraswasta yang beralamat di Jalan Darmahusada Indah di Surabaya.

*Kompas

Filed under: Hukum, Politik , , , , , ,

Ini dia aliran dana 5,1 M Ary Muladi ke KPK…

Uang suap sebesar Rp 5,1 miliar dari Anggodo Widjojo untuk pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diserahkan dalam tiga gelombang melalui perantaraan Yulianto.

Demikian disampaikan oleh Ary Muladi, perantara yang ditugaskan Anggodo dalam keterangan pers di Kantor Wantimpres, Sabtu (7/11).

Bertutur soal kronologis, Ary mengatakan menerima uang tunai sebesar Rp 5,1 miliar langsung dari Anggodo di Karaoke Deluxe Hotel Peninsula pada bulan Juli atau Agustus 2008. Ary mengaku tak ingat pasti. Lembaran-lembaran uang itu dibagi Anggodo dalam dua kantong coklat. Satu kantong berisi tiga amplop besar berisi dollar, masing-masing sejumlah Rp 1 miliar untuk M Jasin, Rp 1,5 miliar untuk Bibid Samad Rianto, dan Rp 1 miliar untuk Bambang Widaryatmo. Satu kantong lagi berisi rupiah berjumlah Rp 250 juta yang belakangan diketahui untuk media.

“Jadi saya tahu itu untuk pimpinan KPK,” tuturnya. Setelah itu, Ary mengaku menerima lagi dari Anggodo sebesar Rp 400 juta dalam bentuk rupiah di tahun 2008. Ary mengaku kembali lupa bulannya. Kali ketiga, Ary menerima Rp 1 miliar dalam bentuk dollar Singapura pada bulan Februari 2009 dari Anggodo. Semuanya untuk disalurkan kepada pimpinan KPK.

“Saat terima (paket pertama) siang dari Anggodo, sore akan diserahkan langsung ke Ade (Ade Rahardja, Deputi Penindakan KPK) dan Jasin. Di Bakoel Koefie ketemu Yulianto lalu (Yulianto) masuk ke Bellagio diserahkan ke Ade Rahardja dan M Jasin,” ungkap Ary.

Dua hari kemudian, kantong berisi Rp 1,5 miliar menyusul diserahkan Ary kepada Yulianto. Sebelumnya, Ary mengaku ditelepon Yulianto yang menyebutkan bahwa paket tersebut adalah untuk Bibit Samad Rianto.

“Penyerahan ke dia, enggak seperti sebelumnya, saya tak masuk ke Bakoel Koefie tapi menyerahkannya di depan lobi Bellagio,” lanjutnya.

Sementara itu, paket uang yang terakhir berisi Rp 1 miliar dalam bentuk dollar Singapura untuk Bambang Widaryatno atas perintah Yulianto disuruh mengantar ke Jalan Denpasar di dekat Gedung RNI.

“Rencananya di Hotel Marriott jam 4 tapi tidak jadi. Diubah ke Wisma Karya di sebuah kafe,” katanya. Ary menerangkan bahwa tak ada tanda bukti penyerahan, baik dari Yulianto maupun dari pimpinan KPK yang menerima. Setelah itu, Ary merasa tugasnya selesai.

*Kompas

Filed under: Hukum, Politik , , , , , ,

Rani kunci pembuka aib…

Hari ini sidang pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen, kembali digelar di PN Jaksel, dengan menghadirkan Rani Juliani, 23, sebagai saksi.

Masyarakat sangat menantikan kesaksian yang bakal keluar dari mulut caddy golf cantik ini. Pasalnya, Rani disebut-sebut mempunyai posisi penting dalam kasus yang akhirnya membuka kasus-kasus besar hingga berbuntut perseteruan antarlembaga penegak hukum di negeri ini.

Konflik Polri-KPK yang berkembang akhir-akhir ini ternyata memiliki benang merah dengan kasus pembunuhan Nasruddin. Rhani yang dipersisteri secara siri oleh Nasrudin sadar atau tidak kemudian telah membuka aib-aib lain di tubuh penegak hukum di luar kasus asmara itu sendiri.

*Poskota

“Istilahnya, kalau tidak ada perempuan muda itu bisa jadi kasus besar yang lalu membuat Presiden SBY ikut turun tangan dan membentuk tim pencari fakta dalam kasus Bibit dan Samad, tidak akan mungkin muncul,” ujar Boyamin Saiman, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI).

Sebagaimana diketahui, Antasari yang dituding mendalangi pembunuhan ini kemudian melemparkan bola panas melalui testimoninya yang mengejutkan.

Testimoni itu berisi, dugaan penyuapan oleh Anggoro melalui adiknya Anggodo Widjojo sebesar Rp6,1 miliar kepada pimpinan KPK (kini non aktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Anggoro (Dirut PT Masaro Radiocom) adalah tersangka kasus Sistem Komunikasi Terpadu di Dephut senilai Rp180 miliar. Hal itu dilakukan Antasari konon karena dia merasa dibiarkan sendiri oleh koleganya di KPK menghadapi tuduhan pembubuhan tersebut.

Bibit dan Chandra yang ‘kebakaran jenggot’ lalu balik melaporkan Antasari ke Polri karena telah menemui Anggoro Widjojo di Singapura bersama Edy Soemarsono. Mereka menilai telah terjadi pelanggaran kode etik KPK.

Namun, saat upaya itu dilakukan, Mabes Polri keburu menjerat Bibit dan Chandra dengan sangkaan penyalahgunaan kewenangan dan suap kasus PT Masaro, yang terakhir diubah penyidik menjadi pemerasan, seperti diatur pasal 12 (1) huruf e UU No 31/1999.

BANK CENTURY

Merasa dipojokkan atas perbuatan yang tidak dilakukan, Bibit dan Samad lalu mengeluarkan pernyataan soal adanya hasil penyadapan tentang suap Rp10 miliar atas jasa seorang petinggi Polri mencairkan deposito milik nasabah Century di antaranya Budi Sampurna dan rekaman tentang dugaan rekayasa terhadap mereka berdua.

Namun kasus dugaan suap Rp10 miliar ini tidak keburu diusut, begitu juga kasus rekaman yang sudah tersebar luas itu. Pasalnya Bibit dan Samad telah lebih dulu dijadikan tersangka dan dijebloskan ke Rutan Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Sebaliknya, kasus Bank Century diambil-alih penanganannya oleh Mabes Polri soal tindak pidana perbankan, sementara Kejaksaan Agung menanganani tindak pidana khusus. Bahkan pagi-pagi kejaksaan agung menyatakan kasus pengucuran dana talangan itu tidak ditemukan cukup bukti.

Kini, kasus ini menjadi polemik dahsyat di tengah masyarakat. Sebab rekaman sudah tersebar luas dan menyebut-nyebut nama petinggi negeri ini. Elit politk pun lagi-lagi kebakaran jenggot dan melalui Polri akan menyita rekaman itu.

Perseteruan KPK-Polri pun memanas. Masyarakat menggulirkan dukunganannya kepada KPK secara meluas hingga membuat Presiden memanggil empat tokoh untuk mencari solusinya dan kemudian membentuk tim pencari fakta.

“Bagi saya, ini tidak mengangetkan, sebab sedari awal pokok persoalannya sebenarnya masalah Bank Century. Ini menyangkut kekuasaan. Jadi apa saja akan dilakukan oleh penguasa,” tukas Boyamin.

RANI JADI SAKSI

Rhani sendiri hari ini akan dimintai keterangannya sebagai saksi pembunuhan suami sirinya Nasruddin Zulkarnaen. Rhani yang dikabarkan biasa mendapatkan tips hingga jutaan sebagai caddy ini disebut sebut dalam dakwaan, antara lain bertemu Antasari, Mei tahun lalu di kamar 803 Hotel Grand Mahakam.

Di tempat itu, Antasari dituding melakukan pelecehan seksual pada mahasiswi STMIK Raharja, Tangerang itu. Antasari juga disebut-sebut memberikan sejumlah uang pada Rhani masing-masing sebesar 300 dolar AS dan 500 dolar AS.

Rani disebutkan meminta bantuan Antasari selaku Ketua KPK supaya membantu pelantikan suaminya menjadi direktur di PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

Filed under: Hukum, Politik , , , ,

Kategori

Jumlah Kunjungan

  • 415,883 hits sejak 8 Mar 2009

Blog Banner

Blog Directory

Pagerank

Pagerank

Lagi Online

Ingin Berlanggan Berita Kami?

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

RSS Lintas Berita

Link Banner

Join My Community at MyBloglog!